Contoh Kasus
Seorang laki-laki bernama Samuel berusia 32 tahun memiliki style yang casual, berbadan atletis, berwajah tampan. Dia bekerja sebagai manager HRD (Human Resources Development). Samuel adalah pribadi yang hangat, sanguinis, dan menyenangkan. Menurut atasannya, Samuel memiliki peranan yang penting dan sangat kontributif.
Keanehan yang terjadi pada Samuel bahwa dia seorang yang introvert. Karena dia selalu menghindari perbincangan yang menyangkut dengan lawan jenisnya. Bila ditanya kapan akan menikah oleh keluarganya dia menjadi stress. Setelah itu keluarga mendesaknya untuk menikah, sehingga Samuel merasa depresi.
Selanjutnya Samuel berkonsultasi dengan psikolog. Setelah diwawancarai dengan lebih lanjut, baru diketahui bahwa lima tahun lalu kekasihnya meninggal dunia karena kecelakaan yang hebat pada malam natal ketika akan menuju ke rumah Samuel. Samuel merasa bersalah, dia tidak bisa melupakan bayang-bayang kekasihnya itu. Setelah kejadian itu Samuel jadi takut untuk membina hubungan. Sebab ia takut kehilangan dan menyakiti wanita yang dia cintai.
Learning obyektif dari kasus diatas :
1. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang aspek-aspek psikologis yang terjadi pada Samuel.
2. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang konsep memori
3. Mahasiswa mampu memberikan solusi untuk contoh kasus Samuel.
Aspek Psikologis yang dialami oleh Samuel.
Aspek – aspek psikologis yang terjadi pada Samuel terdapat dalam beberapa aspek, yaitu :
1. Grief
Definisi konseptual dari grief adalah rasa sedih, mengarah kearah ke duka cita, sifatnya lebih mendalam dari sedih. Sedangkan sedih mengarah kearah empati. Perasaan yang biasanya timbul dalam diri seseorang karena adanya perpisahan baik untuk sementara maupun selamanya dengan orang yang dicintai. Pada hakikatnya ada rasa kehilangan. Individu yang mengalami grief memandang dunia serba kelabu dan tidak bernuansa serta kehilangan semangat.
Definisi operasional dari grief adalah perasaan sedih yang mendalam yang dikarenakan kehilangan atau perpisahan dengan orang yang kita cintai.
Reaksi-reaksi grief ada 4 tahap. Tahap yang pertama adalah tahap protes. Pada kasus Samuel ini, pada saat kekasihnya meninggal dunia karena kecelakaan saat akan menuju kerumah Samuel. Tahap yang kedua adalah tahap putus asa. Samuel putus asa karena demi natal bersamanya, kekasihnya meninggal dunia sehingga dia menunjukkan gejala depresi. Tahap ketiga adalah tahap mandiri, seperti bersikap apatis atau menarik diri dari lingkungan dengan cara menjauhi perbincangan mengenai lawan jenisnya. Tahap keempat adalah tahap reorganisasi yaitu tahap dimana orang mulai bangkit dan mulai menghadapi hidup yang baru.
Fase-fase ini yang berbahaya, karena dapat mengakibatkan hambatan yang permanen terhadap kemampuan menaruh afeksi terhadap orang lain sehingga dikemudian hari bila menjalin hubungan dengan orang lain tidak pernah bisa mendalam atau malah bersifat eksploitatif. Hal ini terlihat ketika Samuel tidak mau berhubungan dengan lawan jenis karena tidak ingin menyakiti dan kehilangan lagi. Kedua, Selalu menarik diri dan merasa depresif. Ketiga, ketakutan bahwa setiap saat lawan jenisnya itu akan meninggalkan dia. Prosesnya semakin lama jangka waktu perpisahan itu, semakin besar kemungkinannya anak akan memasuki fase patogenik ini. Semakin panjang fase ini dialami, semakin besar kerusakan kepribadian yang akan timbul. Reaksi rasa duka pada remaja dan orang dewasa pada umumnya juga berlangsung seperti itu. Bila dibandingkan dengan rasa duka yang normal, Samuel mengalami rasa duka neurotis, diantaranya adanya rasa bersalah yang sangat mendalam yang diakibatkan oleh kehilangan sesuatu yang berharga yang dalam hal ini adalah kehilangan kekasihnya yang meninggal demi merayakan natal bersama. Akibatnya Samuel akan merasa tidak berharga karena tidak bisa menolong kekasihnya dan akan mulai berpikir tentang bunuh diri.
Fase yang kedua adalah fase dimana seseorang menjadi apatis dan depresif (fase putus asa). Dalam hal ini terjadi penolakan fakta bahwa orang tersebut sudah tidak ada lagi. Freud mengatakan rasa duka yang normal memang agak sulit dibedakan dari yang abnormal. Hanya pada yang abnormal ada rasa marah yang laten terhadap orang yang meninggal dan karena itu menimbulkan rasa sangat bersalah. Setelah orang yang sekarang meninggal, Perasaan bersalah ini menimbulkan berbagai bentuk defence mechanism yang abnormal.
Sebagai reaksi terhadap rasa duka, menurut psikoanalisa, ada beberapa hal yang bisa terjadi pada orang yang ditinggalkan. Misalnya Imitasi, hal ini terjadi pada dasarnya adalah usaha untuk tetap menghidupkan image almarhum karena hal ini dapat membantu Samuel untuk menyesuaikan diri terhadap rasa kehilangannya. Pada rasa sedih yang normal sering timbul proses yang disebut “pengunduruan diri” dimana orang kembali menghayati masa-masa indah bersama almarhum.
Tapi pada saat yang bersamaan Samuel juga menyadari bahwa hal ini tidak mungkin terulang lagi.
Menurut Freud, setelah proses itu orang normal dapat membebaskan diri dari keterikatan terhadap orang yang meninggal dan mulai menaruh minat lagi untuk menjalani kegiatan hidup sebagai biasanya. Dalam contoh kasus ini, Samuel mulai menjalani kegiatan bekerjanya seperti biasa. Namun dia tetap apatis (menarik diri) dengan cara menghindari perbincangan mengenai lawan jenis.
Fase ketiga adalah fase rehabilitasi, fase dimana individu mulai bisa mengikuti aktivitas-aktivitas sosial seperti dulu, tapi kadang-kadang masih juga merasa sedih.
2. Stress
Stress adalah keadaan tegang (tension) dalam dari individu yang diakibatkan adanya ketidakseimbangan psikologis. Menurut Hans Selye (1976), contoh kasus Samuel, Samuel mengalami eustress dan distress. Eustress yang dialami oleh Samuel adalah dengan melupakan kesedihan dan rasa bersalah dia dengan menumpahkan segalanya pada pekerjaan dia. Distress yang dialami oleh Samuel adalah ketika dia menghindari semua perbincangan mengenai lawan jenisnya. Tidak hanya menghindari perbincangan, bahkan sampai dengan tidak ingin berdekatan dengan lawan jenis. Karena dia takut akan kehilangan dan menyakiti lagi orang yang sangat dia cintai. Menurut Hans Selye (1980), Samuel pun termasuk pada orang yang mengalami overstress (stress yang berlebihan) dan bad stress (stress yang dialami karena adanya keadian yang tidak menyenangkan). Akibat dari stressor tergantung pada penting tidaknya sesuatu dan lamanya stress itu berlangsung.
Stressor menciptakan tantangan bagi organisma untuk melakukan adaptasi. Namun bila stressor yang dihadapi datang bertubi-tubi, kemampuan individu untuk beradaptasi hancur yang selanjutnya menurunkan fungsi integrasi (rasionya jadi rendah) dari individu dan bahkan memungkinkan terjadinya breakdown pada individu. Hal ini disebut dengan dekompensasi. Dekompensasi terjadi pada 3 level, yaitu biologis, psikologis, dan sosiokultural (gross stress raction). Dekompensasi yang lebih terlihat dari contoh kasus Samuel adalah dekompensasi psikologis. Yang pertama adalah Alarm and Mobilization, saat individu mengalami stress akan timbul kewaspadaan dan memobilisasi sumber-sumber untuk mengatasi stressor. Emosi tergugah dan tekanan bertambah, sensitifitas meninggi dan waspada, dan usaha untuk kontrol diri (pada saat ini mungkin dilakukan task-oriented atau defence oriented). Yang kedua adalah Stage of Resistence, bila stress berlanjut individu sering kali mampu menemukan makna yang berhub dengan stressor dan kemudian “melawan” disintegrasi psikis. Pada akhir dari fase ini individu cenderung menjadi kaku dan melekat pada defence yang dikembangkan sebelumnya dibandingkan mencoba untuk mengevaluasi ulang situasi stressor dan melakukan pola-pola coping yang lebih adaptif. Yang ketiga adalah Stage of Exhaustion, jika stress berlanjut terus, sumber-sumber indivu untuk beradaptasi “habis dan coping yang dilakukan menjadi gagal. Menurut Mahoney, ada tujuh langkah untuk melakukan adjuShort Term Memoryent, yaitu S (specify the general problem), C (collect information), I (identification causes of pattern), E (exime options), N (narrow options and experiment), C (compare data), E (extend, revise or replace). Yang secara keseluruhan terbentuk dengan kata SCIENCE. Kira-kira itulah yang dilakukan oleh psikolog yang memeriksa Samuel.
3. Specific Phobia
Specific Phobia adalah rasa takut yang besar dan irasional terhadap suatu objek, aktivitas ataupun situasi tertentu, yang menyebabkan respon anxiety dan menyebabkan terganggunya fungsi keseharian dan adanya perilaku penghindaran.
Gambaran diagnostik dari specific phobia yang pertama individu mengalami ketakutan yang spesifik dan kuat, berlebihan dan tidak masuk akal, dan mengakibatkan adanya antisipasi/peghindaran terhadap objek/ situasi yang spesifik seperti penghindarannya terhadap lawan jenis.
Kedua, akan mengalami anxiety, mungkin dengan gambaran yang sama dengan Panic Attack ketika berhadapan dengan stimulus yang menyebabkan Phobia. Ketiga, menyadari bahwa rasa takut tersebut berlebihan dan tidak masuk akal. Keempat, berusaha menghindari situasi tsb ataupun bertahan dengan anxiety ataupun stres yang tinggi seperti menghindari pernikahan. Kelima, kondisi ini menimbulkan stres dan gangguan dalam rutinitas/fungsi keseharian, aktivitas maupun relasi dengan orang lain.
4. Obsessive Compulsive Disorder
Obsesi ataupun kompulsi ini menimbulkan stress, menimbulkan gangguan pada rutinitas, aktivitas sosial ataupun hubungan dengan orang lain. Gambaran dari obsesi, yaitu pertama pikiran, dorongan, ataupun bayangan yang “kuat” dan berulang yang dirasa sebagai sesuatu yang mengganggu dan tidak wajar, yang menyebabkan anxiety maupun stress. Biasanya kekhawatiran yang berlebihan tersebut, tidak berkaitan dengan problem kehidupan yang nyata. Kedua, berusaha menghindari ataupun mensupress pikiran, impuls, ataupun bayangan tersebut dan berusaha menggantinya dengan pikiran ataupun tindakan lainnya. Ketiga, menyadari bahwa hal tersebut adalah produk dari pikiran mereka (berbeda dengan delusional belief ).
Gambaran kompusi, yaitu perilaku ataupun “mental act” tersebut, sebenarnya dilakukan guna meredusir stres ataupun kondisi yang tidak menyenangkan.
5. Trauma
Trauma psikologis adalah shock emotional yang timbul karena stress atau frustrasi yang hebat yang mengakibatkan terganggunya fungsi-fungsi mental, seperti bingung, amnesia, kehilangan kemampuan kognitif, mimpi buruk (à gejala anxiety) dan cirri perubahan kepribadian yang bersifat sementara. Simptom-simptom traumatic neurosis yang terjadi ada 3, yaitu :
1. keadaan emosi yang tidak terkontrol à terlihat jelas saat kekasih Samuel meninggal dia merasa marah, depresi, dan anxiety.
2. gangguan tidur à tidak terlihat karena dalam contoh kasus yang dibahas tidak diungkapkan secara eksplisit apakah Samuel mengalami insomnia atau mimpi buruk.
3. terhambat atau hilangnya personal skills à pada saat orang yang paling dicintainya meninggal dunia, Samuel menjadi tidak bisa konsentrasi dan kehilangan fungsi ego untuk sementara.
Ada individu yang dapat dengan cepat terlepas dari simptom-simptom sedangkan yang lain mengidapnya untuk waktu yang lama. Hal ini disebabkan karena jenis rangsang dan bagaimana makna rangsang bagi individu serta kepribadian individu.
Tahap-tahap penghayatan selama seseorang mengalami kejidian traumatic :
1. fase 1 : terror à keadaan yang amat mencekam
2. fase 2 : munculnya simptom-simptom shock emotional
3. fase 3 : simptom tersebut ada yang akan menetap untuk beberapa jam, hari, tahun
akibatnya selama mengidap simptom tersebut orang tidak bisa berfungsi normal. Dari beberapa penelitian, ahli menyimpulkan bahwa semakin tinggi derajat victimization-nya semakin besar pula kemungkinan munculnya gangguan emosional. Berdasarkan lamanya Samuel menampakkan simptom-simptom traumatis, Samuel dapat digolongkan kedalam latent traumatic neurosis. Dalam waktu yang singkat Samuel akan kembali normal, namun pada saat dia dihadapkan pada lawan jenis yang merupakan inti dari masalahnya, simptom-simptom trauma yang dahulu muncul akan muncul kembali. Dan Samuel akan kembali menjadi anxiety, depresi, dan merasa marah. Bila hal ini disimpan secara terus menerus, endapan trauma ini akan mengakibatkan penurunan toleransi terhadap stress, mudah mengalami mental breakdown, dan sangat menghayati anxiety.
Reaksi-reaksi phobia yang sering mengerti suatu pengalaman traumatis terdiri dari 2 habit, habit 1 yaitu reaksi anxiety diperoleh saat bencana terjadi, timbul karena stimuli yang semula bersifat netral. Dalam hal ini reaksi anxiety terjadi ketika kekasihnya meninggal karena kecelakaan ketika menuju rumah Samuel. Habit 2 yaitu avoidance habit, merupakan kebiasaan untuk menghindari segala hal yang dapat membangkitkan rasa cemas. Habit ini terbentuk melalui operant conditioning. Avoidance habit adalah suatu cara atau alat yang digunakan orang untuk menghindarkan diri dari stimuli yang bisa menimbulkan rasa cemas, karena merupakan ‘alat’ orang mempelajarinya melalui instrumental learning atau operant conditioning. Namun menurut operant conditioning, suatu respon terbentuk sebagai hasil pemberian/adanya reinforcement bila adanya suatu avoidance action. Tindakan-tindakan yang digunakan untuk menghindarkan diri dari rasa cemas, mengalami reinforcement yang kuat, maka hal ini akan menjadi habit.
6. Post Traumatic Stress Disorder
Gambaran Post Traumatic Stress Disorder (PTSD), yaitu pertama menyebabkan stress yang signifikan, setelah mengalami kejadian traumatic. Kedua, selama minimal 1 bulan, ada pengulangan pengalaman traumatik, melalui beberapa cara : kenangan mengenai kejadian, mimpi, perilaku maupun perasaan saat pengalaman berlangsung, stres terhadap petunjuk internal ataupun eksternal yang merupakan simbol atau yang menyerupai kejadian traumatik yang dialami, reaksi fisiologis terhadap petunjuk internal ataupun eksternal yang merupakan simbol atau yang menyerupai kejadian traumatik yang dialami.
Ketiga, selama minimal 1 bulan, menghindari stimulus yang diasosiasikan dengan trauma, yang ditandai dengan minimal 3 dari gejala, yaitu, adanya usaha untuk menghindari pikiran, perasaan, pembicaraan yang berkaitan dengan trauma; menghindari aktivitas, tempat dan orang yang berkaitan dengan trauma; merasa tidak punya masa depan.
Keempat, selama minimal 1 bulan, mengalami minimal 2 simptom, yaitu iritabilitas (ledakan kemarahan), respon yang berlebihan / mencengangkan.
Semua aspek-aspek yang muncul ini tidaklah bisa berdiri sendiri, sebab kekompleksan masalah yang tidak bisa dilihat dari satu sisi, sebab antara aspek yang satu dengan aspek yang lainnya memiliki keterikatan diantaranya. Hal ini dilakukan agar dalam pemberian terapis pada klien dapat di diagnosa dengan benar.
Konsep Memory
Prinsip-prinsip belajar (secara umum) dapat diterapkan pada manusia dan binatang, tetapi memori hanya terjadi pada human learning yang merupakan memory crucial bagi manusia. Sebab merujuk pada mengalirkan informasi yang ditangkap indra, diteruskan, direduksi, dielaborasi, ditemukan kembali, dan dimanfaatkan (Neisser, 1976).
Informasi adalah sensory input yang berasal dari lingkungan yang memberikan petunjuk tentang sesuatu yang terjadi. Proses kognitif adalah proses-proses mental yang meliputi “mengetahui” tentang dunia, seperti, persepsi-atensi-berpikir-memecahkan masalah dan memori. Karena proses kognitif ini adalah mata rantai dari proses-proses mental.
Teori information-processing adalah teori tentang memori yang didasarkan kepada kesamaan antara proses otak manusia dengan komputer. Bukan berarti, otak manusia dengan komputer itu cara kerjanya sama. Akan tetapi, secara umum ada kesamaan, sehingga teori ini menjadi useful.
Aliran Informasi pada Memory

Pada setiap tahap tersebut, control mechanism (attention, storage, retrieval) akan bekerja. Semua informasi akan masuk ke sistem memori melalui sensory reseptor. Sama halnya dengan mengetikkan data melalui keyboard. Pada proses ini, terjadi pada atensi bekerja.
Informasi yang masih mentah ini, kemudian direpresentasikan (encoded) dalam suatu bentuk (suara – visual image – meaning) yang bisa digunakan pada tahapan memori selanjutnya.
Mekanisme kontrol yang lain atau berikutnya adalah mentransfer informasi yang telah terpilih menuju memori storage yang permanen (saving data pada komputer). Jika informasi yang telah di simpan ini diperlukan, maka akan di-retrieved dari memori (membuat print out data).
Pada dasarnya, ada informasi yang perlu disimpan secara singkat, tetapi ada juga yang bersifat permanen. Contoh, membuat beberapa macam masakan, belajar statistic, karena setiap hari kita menggunakan rumus-rumus itu.
Stage Theory Of Memory
Sensory Register
Tahap pertama dari memori, berlangsung sangat singkat, dirancang untuk “menahan” image secara eksak (pasti) dari setiap pengalaman penginderaan sampai seutuhnya bisa diproses.
Short Term Memory
Bila suatu informasi telah dipilih untuk diproses lebih lanjut, maka informasi tersebut akan ditransfer dari sensory register menuju short term memory. Short term memory adalah tahap memori ke dua yang merupakan sistem penyimpanan informasi yang bersifat temporer, sebab secara umum informasi akan hilang < style=""> Sebenarnya short term memory memiliki kapasitas penyimpanan yang terbatas. George Miller (1956) menyebut magic number seven plus or minus two (7 ± 2). Data-data yang kita peroleh akan kita simpan dalam short term memory paling sedikit 5 dan paling banyak adalah 9. Bila seseorang diberikan 12 kata yang harus diingat, maka dalam kurun waktu 10 detik seseorang akan sulit untuk me-recall, karena 12 chunks (=unit-unit memory) adalah batas maksimum kapasitas short term memory. Tetapi bila kata-kata tersebut diorgansiasikan atau dikelompokan kedalam beberapa chunks, maka kata-kata tersebut akan lebih mudah untuk diingat.
Long Term Memory
Gudang informasi yang akan menyimpan informasi dalam jangka waktu panjang, tetapi long term memory bukan hanya sistem penyimpanan informasi yang lebih lama dibanding short term memory (permanen). Perbedaan short term memory dengan long term memory :
- The way in which information is recaved
- The form in which information is stored in memory
STM à disimpan dalam wujud fisik (berbentuk kata)
LTM à disimpan dalam kode-kode semantic (berbentk makna)
- The reasons that forgetting occurs
STM à jika kurang dari 30 detik tidak direhearsal, maka data yang telah disimpan akan hilang.
LTM à data yang telah disimpan akan hilang karena kita tidak bisa mengangkat memori dikarenakan hal-hal tertentu serta data-data yang telah disimpan permanen tertutup oleh informasi yang lebih baru.
- The physical location of this function in the brain
STM à diintegrasikan pada frontal lobus dari cerebal cortex
LTM à diintegrasikan pada Hyppocampus yang kemudian ditransfer ke cerebral cortex, tetapi sudah melibatkan bahasa dan persepsi.
Tipe-Tipe Long Term Memory
- Procedural memory, memory for skills and other procedures
- Semantic memory, memory for meaning
- Episodic memory, sejenis informasi yang disimpan dalam long term memory tentang pengalaman yang terjadi pada waktu tertentu.
Mekanisme long term memory mampu menyimpan procedural memory dan semantic memory secara efektif, tetapi long term memory mampu menangani episodic information yang lebih efektif.
Organisasi Dalam Long Term Memory
Besarnya kapasitas long term memory mengakibatkan long term memory harus memiliki sistem penyimpanan yang terorganisasi dengan baik, sehingga mudah dicari. Ibaratnya sebuah perpustakaan yang banyak sekali koleksi bukunya. Cara lain adalah dengan associative network, yaitu ingatan-ingatan diasosiasikan atau Linked together melalui pengalaman.
Retrieval of Long Term Memory
Dalam tugas-tugas memori tertentu, urutan dari materi yang akan diingat itu sama pentingnya dengan itemnya itu sendiri. Pada saat akan me-recall serangkaian item, maka item yang letaknya di urutan awal dan akhir dari rangkaian tersebut akan di-recall lebih baik dibandingkan item urutan tengah. Ini disebut serial position effect. Mengapa efek ini terjadi? Item terakhir masih tersimpan dalam short term memory sedangkan item awal sudah diproses dan tersimpan dengan baik dalam long term memory.
The Tip of The Tounge Phenomenon
Memberikan definisi, suatu kata yang tidak umum. Misalnya “sampan”. Sampan adalah perahu kecil yang digunakan diperairan dangkal di kawasan Asia, menggunakan satu dayung digerakkan dari arah depan ke belakang.
Bila individu yang tes recalling gagal mengingatnya, maka eksperimenter dapat mengembangkan tip of the tounge untuk mengubah ingatan responden atas kata tersebut.
Level Of Processing
Altenatif lain dari the stage theory of memory yang menyatakan perbedaan short term memory dan long term memory lebih bersifat ‘derajatnya’ daripada ‘jenis’nya serta didasarkan kepada bagaimana informasi itu diproses.
Menurut Craik dan Lockhart (1972), sensory register hanya menyimpan satu jenis memory. Lamanya suatu informasi bisa bertahan dalam ingatan ditentukan oleh seberapa baik suatu materi itu diproses secara shallow level dan deeper level. Shallow processing merupakan penyandian atas informasi perceptual secara superficial. Deep processing akan menyandikan informasi berdasarkan makna juga mencerminkan elaboration dari ingatan. Elaboration berarti membangun asosiasi antara new memory dengan existing memory.
Pandangan the levels of processing tidak menggantikan short term memory/long term memory stage model. Melainkan pandangan ini bermanfaat bagi manusia yang mengingatkan “jika informasi dipelajari secara dangkal, maka tidak akan bertahan lama dalam ingatan”.
Solusi
Solusi yang bisa diberikan untuk kasus Samuel ini, yang pertama dilakukan adalah dengan menghadirkan segala sesuatu yang dia hindari seperti lawan jenisnya sendiri. Semua ini memang membutuhkan proses yang tidak sebentar. Awalnya kita kenalkan Samuel pada seorang wanita yang belum dia kenal. Tapi Samuel harus didampingi agar treatment yang diberikan berjalan lancar. Setelah dia mengenal sosok lawan jenisnya itu barulah kita biarkan mereka mengobrol dan saling berbagi satu sama lainnya sambil Samuel belajar untuk membuka diri lagi untuk mengenal lawan jenisnya dan menyadari bahwa semua kejadian itu bukan karena dirinya, namun memang sudah kehendak Yang Kuasa.
Berdasarkan teori psikoanalisa, orang bisa mengatasi rasa sedihnya, yang penting adalah orang tidak boleh mencoba melupakannya tapi justru membiarkan semua kesedihan itu larut dalam waktu & hilang dengan sendirinya. Proses ini disebut “ work it through”.
Selain itu juga terapis harus menghindarkan distorsi persepsi terhadap klien. Karena akan mengacaukan pendiagnosaan terhadap klien.

0 comments:
Post a Comment